Kumohon #CEOKoplak, Maafkan Aku

untuk #CEOKoplak DIVAPress,
Pak Edi
selain dengan surat ini aku tak tahu lagi harus menggunakan media apa untuk berterusterang padamu pak. sebenarnya ada begitu banyak cara dm twitter, email, bahkan sms langsung. tapi semua cara itu kuanggap kurang sopan bahkan sangat tidak sopan.
biarkan aku berterus terang
terus terang malam itu saat bapak mengirimkan email padaku aku sangat terkejut dan menerka-nerka apa kiranya isi surel darimu itu. setelah kubaca aku sungguh senang tiada tara. kurasa impianku tinggal lima centi di depan mata.
langsung aku coba memenuhi permintaanmu. kutulis sebuah cerpen. kau tau aku sangat ibuk waktu itu. hampir seluruh waktu dan tenagaku tersedot urusan kampus. semua tugas dan ujian yang kupikul waktu sangatlah berat untukku. tapi aku tetap berusaha menulis cerpen.
beberapa waktu berselang ada sebuah sms datang padaku. aku mengabaikannya kukira bukan apa-apa, tapi bapak memberitahuku lewat twitter bahwa engkaulah pengirim sms itu dan seketika menyesallah diriku. semangatku untuk menyelesaikan cerpenku tumbuh lagi. ya cerpenku belum selesai pak.
lama berselang bapak tidak memberi kabar. aku pun sungkan menanyakannya. dalam hatiku sedikit lega karena memang cerpenku belum selesai pak.
saat bapak akhirnya memberi kabar aku sedang berada di surabaya. lagi-lagi kita gagal bertemu. tapi terus terang aku bersyukur saat itu aku berada di surabaya. karena cerpenku belum juga selesai pak. setidaknya aku tidak mesti berterusterang padamu saat itu juga. jujur aku takut sekaligus malu. aku tak bisa menepati janji.
aku berpikir pasti bapak sangat kecewa padaku sekarang. karena sampai sekarang pun cerpenku belum selesai pak. ya ampun betapa memalukannya diriku ini.
entahlah mungkin aku yang kurang berusaha dan kurang konsisten. tapi sungguh aku ingin sekali menekuni begity banyaj hal sekarang ini. bukan hanya menulis. aku belum bisa hanya fojus pada menulis. pun aku tidak bisa menulis dengan disambi. ah mungkin karena memang aku belum mencobanya.
sekarang pak, cerpenku belum juga selesai. dan sungguh aku tak punya nyali untuk bertemu denganmu.
maafkan aku pak telah menyita waktumu.  
sekarang kamu boleh melupakanku. melupakan janjimu dan juga janjiku.
secara sangat kasar sebutlah ini surat penolakan dariku. ya ampun sungguh aku tidah ingin menyebitnya seperti itu. tapi adakah sebutan lain?
sekali lagi maafkan kelancanganku pak. maafkan ketidaksopananku. siapalah aku berani menolak seorang dirimu pak?
setelah menulis surat ini bukan berarti aku sudah tidak memiliki keinginan untuk menjadi seorang penulis. keinginanku masih besar dan makin besar dari hari ke hari pak. namun biarlah waktu berjalan dan aku serta Tuhan yang akan memnjawab semuanya.
setelah ini kuharap kamu tidak lantas membenciku. kuharap suatu saat aku bisa meminta pertolongan darimu.
demikian akhirnya aku bisa lega setelah berterusterang padamu.
dari anak didikmmu dengan segala penyesalan.
nb: kuharap kau tak marah aku menyebutkan diri sebagai anak didikmu pak. atau kalau kau keberatan bisa aku menyebut diriku sebagai calon anak didikmu? mungkin itu lebih tepat.

Komentar